Show notes
“Berapa lama ya durasi ngobrolnya?” tanya Coki pada Yuka melalui aplikasi chat, ketika ia diundang untuk menjadi narasumber 2112 Podcast. “Mulai jam 9 sampai kelar. Rata-rata sih sekitar satu setengah sampai dua jam,” jawab Yuka. “Wanjer… Hahaha… Gue sih nggak tau sanggup berapa lama, perasaan angle gue terhadap Rush ya itu-itu saja buat gue dari dulu.” . Itulah sekelumit perbincangan awal tentang bagaimana Coki Singgih, seorang periset dan konsultan komunikasi massa yang tengah sibuk menyusun rencana proyek edukasi tentang musik populer, berani mengaku dirinya sebagai penggemar RUSH. Seperti yang sudah diduga sebelumnya dan seperti yang telah Yuka peringatkan, bahwa sangat mungkin Coki sendirilah yang tidak dapat berhenti bercerita tentang banyak hal antara RUSH dan dirinya.Praktik musik populer, sebagaimana praktik kebudayaan lainnya adalah sebuah proses “making meaning.” Estetika bunyi berpadu dengan rangkaian kata-kata puitis yang hadir sebagai musik selalu dapat menembus ruang-ruang pemaknaan dan mengguratkan jejak penting. Adakalanya jejak tersebut kita sadari, namun kadang terekam jauh di ambang sadar seseorang. “The music speaks for itself,” justru karena minimnya informasi tentang budaya populer global yang dapat diakses oleh anak-anak muda Indonesia di dekade 1980-an, membuat Coki harus mengonstruksi sendiri pemaknaannya terhadap RUSH. Berdasarkan pengalaman itu, Coki berpendapat bahwa konsumsi musik di masa-masa pertumbuhan seseorang menjadi sangat penting bagi perkembangan mental dan intelektual. Misalnya, belajar untuk memaknai relasi dengan orang lain, bersikap etis dan memiliki daya pikir yang kritis. Kepada Barto dan Yuka, Coki bercerita tentang bagaimana hal-hal tersebut terpicu oleh pertemuannya dengan album Exit… Stage Left (1981) ketika ia masih berusia 10 tahun. Simak perbincangan yang cair, santai dan penuh canda antara mereka bertiga dalam episode kesepuluh ini.



